November 24, 2015

album biru

7
Sudah lama sekali aku tidak membuka album kenangan berukuran kecil yanng ku beli saat aku lulus SMA dulu di toko ceria seharga lima ribu rupiah. Aku meletakkan semua moment di album itu. 
Beberapa foto yg paling mewakili hidupku ku simpan dalam album itu.

Foto saat aku berkunjung ke kebun binatang ragunan bersama adik tersayang saat aku masih menjadi guru TK. Foto kebersamaan dengan teman sekelas sewaktu masih menjadi mahasisiwi aktif di jurusan Sastra. Foto pertama bersama badut  teletabis tokoh kesayangan adik-adikku. Foto kebangga saat di wisuda karna seluruh keluargaku hadir dan teman spesial yang ku anggap sedang dekat jauh-jauh dari cireon juga datang menghadiri wisudaku. Yang moment terspesial saat aku menikah dengan teman dekat itu.

Aku sangat suka di foto, sangat senang melihat diriku tersenyum di gambar itu. Makanya disetiap jepretan foto aku tak pernah lupa untuk menampilkan seyum paling termanis yang ku miliki agar abadi dalam gambar foto. Semuanya tergambar di situ. Bagaimana ekspresiku. Bagaimana aku tersenyum menandakan bahagia. Dan bagaimana aku menyatakan bahwa hidupku sangat bahagia. 

Tapi aku tidak yakin kalau hidupku benar-benar bahagia. Bagaimana tidak... di balik ekspresi senyum itu ada sejuta kejadian tak terungkap lewat mulut maupun hati tak berani berkata.
Satu persatu kupandangai dan membayangkan, apa yang terjadi dalam masa-masa itu. Foto pergi kekebun binatang bersama adik. Aku berfikir bahwa saat itu mau apa di hidupku?. Cantik?  Tidak! 

Populer? Tidak!  Apa yang menarik? Sampai-sampai saudara laki-laki saja enggan memiliki saudara seperti aku.sudah terlahir sebagai gadis yang tidak cantik sama sekali, jutek, judes, galak, suka marah dan sifat yang tidak baik lainnya. Kata mereka aku ini “jelek”. Satu kata yang paling ku benci di dunia ini. Sampai-sampai kenapa tercipta ada kata seperti itu.

Penampilan sangat tidak menarik. Cupu, baju lusuh karna tak mampu beli baju baru. Beli setahun sekali pada saat lebaranpun sudah sangat bersyukur. Tak kenal make-up, makanya melamar kerja jadi SPG yang paling mudah saja tak pernah di terima. Padahal hanya menjadi pelayan. Tapi tidak diterima. Ternyata jadi pelayan itu harus cantik. Aku sempat memiliki ide terlintas di benakku. Yaitu 

Opersai Plastik biar cantik. Kebanyakan nonton film Jepang dan Korea yang rata-rata gadis muda di negara itu melakukan hal demikian demi mendapatkan kulit putih dan wajah yang cantik.

Huh! Mesti cantik ya. Apa cantik itu penting? Ternyata jawaban semua menyatakan Ya! Penting.

Aku tahu model baju terbaru, aku tahu trend make up di tahun itu. Tapi aku tidak pernah tahu bagaimana aku bisa menjadi seperti itu. Jadi gadis yang fashionable. Jadi gadis cantik yang ceria. Yang ku tahu mukaku selalu di tekuk-teku meratapi kejelekan rupaku. Kata kakak ku... “atin mau diapain aja, mau pake apa aja ya... tetep aja jelek”. Tak ada semangat apalagi motivasi. Hidupku di masa sekolah di habiskan dengar mendengar kata-kata yang sungguh menyakiti hati.
Ironi...benar-benar ironi hidupku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Foto kebersamaan dengan sahabat di kampus tercinta saat aku memutuskan untuk kuliah di jurusan Sastra membawa kesan tersendiri. Aku memiliki teman yang tulus memberi kebahagiaan yang padahal di awal kuliah “berteman itu tidak penting karna hanya akan memperlambat  jalan hidupku menuju sukses”. Aku mulai memiliki pemikiran seperti itu pada saat jauuuuh sebelum aku berfikir ingin kuliah yaitu mencari pekerjaan di sebuah pasar swalayan Ramayana bersama anak teman Mama. 

Ukuran tinggi badanku lebih tinggi daripada dia, tapi pada saat lamaranku hampir di terima sedang dia di tolak. Dia protes kenapa dia tidak diterima. Menjadi pedebatan kecil saat itu sehingga menjadikan sang penerima karyawan mengurungkan niatnya untuk tidak menerimaku dengan alasan “oh iya, kami melakukan kesalahan. maaf” mulai saat itu kemanapun aku pergi aku tak butuh ditemani ataupun “pergi bersama” yang katanya lebih indah justru menghambat jalan suksesku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di kampus. Lambat laun aku mulai memiliki rasa arti dari kebersamaan. Teman-teman kelas yang begitu care apabila salah satu diantara kita tidak hadir di kelas. Teman-teman yang selalu mengajak makan bersama walaupun tidak memiliki uang untuk membeli makanan di kantin. Teman-teman yang membuat senyumku mengembang kembali bahwa kebersaman itu memang indah.

Aku tak berfikir kalau... apakah aku akan memiliki seorang kekasih. Pacar hanya menghambat konsentrasi belajarku. Tapi, iri juga kalau melihat teman kelas itu mulai memiliki pasangan yang membiayai kebutuhan pulsa, makan di kantin, dan membelikan pakaian tiap bulannya. Kalau aku memiliki pacar apa aku bisa seperti itu juga? Jujur saja. Bila aku bisa seperti itu kemungkkinan besar aku bisa membeli barang yang kusuka tanpa harus menungu-nunggu gajian dari ngajar Bimbel.aku pun bisa tidak kekurangan uang kan??

Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Melihat kesedihan teman kelas bila sedang cekcok dengan pacarnya seperti  seorang istri yang terancam akan diceraikan suaminya. Kasihan sekali. Tapi mau menunggu bagaimanapun itu tak akan terjadi. Tak ada yang berminat denganku. Lagi-lagi memang harus cantik ya! Supaya dapet pacar. Hah! Kalau gitu memang tak usah punya pacar kalau mau lulus dengan nilai baik.

Sepertinya teman kelasku ini, sangat baik. Mereka berusaha menjadi mak comblang, mengenalkan aku dengan beberapa laki-laki di luar kampus. Kunyatankan dalam hatiku untuk berteman saja. Jadilah tak ada yang memang jadi pacar semuanya adalah teman baik.

Disinilah aku mulai sadar. Menarik laki-laki ternyata tidak melulu harus cantik yah? Bisa juga dengan menarik perhatian mereka dengan sedikit kepintaran. Aku mulai lebih konsentrasi belajar di kampus. Memahami semua materi. Menjadi guru bimbel ternyata tidak sia-sia. Yang tadinya aku pendiam lambat laun aku mulai pandai berbicara di depan teman-teman. Disinilah aku mulai disukai, disenangi oleh teman-temanku. Dan menganggap bahwa aku ini mahasiswi pintar. Mereka ingin belajar banyak dariku. Menggali informasi lebih banyak dariku tentang berbagai hal. Dengan begini aku juga bisa tampil cantik.

Aku mulai sadar bahwa cantik itu tidak hanya dari wajah, tapi bisa juga dari hati, dari bahasa, dari penampilan dan dari perilaku. Aku mecoba untuk berubah sedikit demi sedikit. Sudah memiliki uang dari penghasilan ngajar bimbel aku jadi bisa beli barang yang benar-benar kubutuhkan.

Aku mulai menggunkan make-up, pelembab wajah yang bisa mencerahkan kulit. Aku membeli berbagai produk yang kuanggap aman dan cocok untuk kulitku dan aku menemukan kosmetik yang benar-benar  aman untuk kulitku yang tak pernah pakai kosmetik selain bedak bayi. Aku lebih rajin ibadah dan berpuasa untuk mengontrol emosiku agar tidak cepat marah bila ada teman yang salah bicara. Mencoba untuk selalu tersenyum bila bertemu dengan teman sekampus walau itu tidak sekelas. Aku mulai menata bahasaku agar terlihat sopan. Aku ingat pada perkataan salah seorang 

Dosen Bahasa Indonesia “bila ingin berbahasa yang baik, coba untuk mulai bahasamu dengan yang baik di manapan kamu berada. Biasakan berbahasa yang baik kalau perlu terapkan secara murni bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari”. Aku menerapkan hal itu dan benar saja... semakin banyak teman-teman yang mau mendengarkanku. Malahan ada teman dari jurusan lain yang minta belajar bahasa Indonesia denganku.
Setiap gaji yang kudapatkan tiap bulan, kusisihkan untuk membeli baju baju baru. Memilih model pakaian sesuai dengan kepribadian. Simpel dan santai. Baju baru memang memberi aura tersendiri dalam diri seseorang. Warnanya yang masih terlihat cerah membuat si pemakai juga menjadi cerah dan bersih. Tidak kusam apalagi cupu.

Disela-sela kau berteman dengan teman sekelasku. Mereka pun mulai sadar akan perubahan dalam diriku yang tidak singkat memang... tapi mereka mengakui. “atin yang sekarang beda ya... sama atin yang waktu pertama kita ketemu. Sekarang lebih ceria trus lebih rapi lagi. Makin cantik” alhamdulillah... dalam hati. Jadi cantik itu perjuangan. Itu adalah hasil yang terpenting dalam hidup ini adalah proses menuju kesana. Perjalannan tidak instan akan membawa kebanggaan hidup ini juga tidak instan tapi tetap bertahan jangan sampai jatuh kelubang asal.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Foto wisuda adalah salah satu moment kebanggannku. Bagaimana tidak, aku berjuang dan bekerja keras untuk perayaan itu. Aku rela meninggalkan teman-temanku yang masih asyik dengan menikmati masa pacaran mereka, masa bermain mereka dan masa-masa yang lainnya. Yang kipikirkan saat itu adalah aku mau cepat-cepat selesai agar tidak menghabiskan uang orang tuaku lebih banyak lagi. Kau tahu yang namanya kuliah itu dananya tidak sedikit. Ada dana semester, ada dana ujian, ada dana pembuatan tugas, ada dana makan (jajan) di kantin kampus, ada transportasi dan dana penampilan tentunya. Memikirkan itu aku jadi sangat kasihan kepada mama yang lebih banyak membantu soal keuangan.

Butuh perjuangan keras untuk menyelesaikan skripsiku. Aku harus mencari dosen yang mau membimbingku dan cocok karakternya denganku. Dosen yang memahamiku aku mau isi skripsi yang bagaimana. Dosen itu harus peka, harus mengetahui keinginan tulisanku namun tidak meninggalkan kaidah bahasa. Itu tentu saja karena kau kan orang bahasa.

Kau tau dibalik senyum kebanggaan ada senyum kepahitan? Ya... karena wisuda sendirian di jurusan, aku jadi bulan-bulanan alis bully oleh teman-teman dari jurusan lain. Ada yang mengatakan aku tidak care, tidak peduli, tidak toleransi karena teman-teman dikelas di tinggalkan dan tidak bersabar untuk wisuda bersama teman-teman, ada yang bilang juga kenapa tidak mengambil sastra sunda aja biar gelar kesarjanaannya doble. S. S. S. Sarjana Sastra Sunda. Yeah!

Aku senang karena seluruh keluargaku hadir dalam wisuda itu. Aku senang orang yang spesialpun turut datang menyempatkan diri jauh-jauh dari kota Cirebon demi menyaksikanku di wisuda. Namun ada satu yang membuat kegetiran di hatiku hingga saat ini. Melihat foto itu tentu saja berbagai pikiran muncul. Ternyata pada saat itu, bapak sudah memiliki wanita simpanan yang menjadi duri dalam pernikahan antara bapak dengan mama. Mama yang tidak mengetahui perihal itu. Senyum kepura-puraan diantara mereka. Sebenarnya di hari H itu bapak bilang gak bisa pulang karena kerjaan banyak tapi mama memaksa. ”masa anaknya diwisuda bapakya gak hadir. Kan masih punya bapak yang sehat. Kasian anak” akhirnya bapak pulang. Dalam hati kami sekarang, kemungkinan bapak gak bisa pulang kerumah karena harus pulang kerumah wanita simpanannya itu ya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Foto pernikahanku adalah moment yang paling spesial dalam hidupku. Karena akhirnya aku menikah karena sebelumnya aku berpikir ”apakah aku bisa menikah? Apakah ada yang rela menikahi orang jelek seperti aku? Apakah ada yang menyukaiku?” tapi ternyata teman dekat yang datang jauh-jauh dari Cirebon itu benar-benar serius denganku hingga sabar menungguku bekerja terlebih dahulu setelah diwisuda. Dialah yang sekarang menjadi suamiku. Perjuangannya harus aku akui. Tanggungjawabnya sebagai laki-laki juga harus aku akui. Keseriusannya membina hubungan baik juga harus aku akui. Dia bukan tipe main-main, dia bukan tipe bercanda-bercanda apalagi bikin lelucon yang gak penting.

Senyumku bahagia namun dibalik kebahagian itu pedih yang menyakitkan. Seminggu sebelum hari pernikahan aku mengantarkan undangan ke teman-teman. Namun kejadian dirumah sangat memilukan. Mama mengetahui kenakalan bapak. Mama mengetahui bahwa bapak punya wanita simpanan dan sudah menikah secara siri selama 2 tahun. 2 tahun terakhir kehidupan bapak penuh kebohongan. Katanya dapet uang dari kerjaan sedikit ternyata penghasilannya harus berbagi dengan wanita lain.

Sakitnya hati mama yang dikhianati lantas tak membuat mama kalah begitu saja. Mama mendatangi wanita itu dan minta agar memutuskan hubungan siri mereka. Setelah itu mama pergi kerumah kakak di bogor, menginap selama 2 hari 3 malam.
Aku sendirian dirumah. Mestinya si calon pengantin ini di jaga emosinya. Mau jadi pengantin kan mestinya dilayani bak putri raja. Ya luluran, ya pijat, ya ngaji yang banyak, ya di masakin. Bukan bikin sarapan sendiri, bikin makan siang sendiri, gak enak makan, gak enak tidur, akhirnya tepar. Masuk angin, flu, bukannya di lulurin malah dikerokin. Aduh aduh aduh kasian banget ya. Mau menikah aja ujiannya segabreng.

Malam ketiga sebelum hari pernikahan. Tengah malam mama sama bapak ribut. Mama nagis-nagis. Adikku yang cowok emosi tak terkendali. Memecahkan barang-barang dikamarnya. Ikut nangis “bapak gak punya perasaan. Selama ini anak ngalah sama bapak. Tapi apa yang bapak lakuin? Kalo bapak gak pernah begitu. mba atin gak bakalan sedih. Kasian mba atin yang mau nikah tapi ada kejadian kayak begini”. Mendengar namaku disebut aku langsung keluar kamar dan memeluk adikku di ruang tengah. “mba atin gak pa pa kok. Mba atin sabar. Dede jangan begini. Kalo dedebegini mba jadi sedih” sambil pegang gelas kaca yang mau dibanting lagi. Aku menahannya agar dia tidak dibanting lagi gelas-gelas  itu. Cukup sudah beling berserakan dilantai. Jangan sampai ada yang terluka kena beling. Cukup luka dihati saja yang tak terlihat dan anggaplah semua baik-baik saja.
Kini aku menyadari semua senyuman itu. Senyuman diantara semua foto senyumku. Yang terlihat diluar tidak seperti didalam. Apapun yang terjadi didalam. Jangan sampai kau mengeluarkannya.  


No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ke blog aku.
Salam

Meningkatkan Value Untuk Diri Sendiri

Ketika aku menulis, ibarat berjuang dengan diri sendiri. Halo Ladies, kembali lagi Mak Kece menyapa dengan pengetahuan yang bermanfaat. Kali...