November 28, 2015

Lapeer

Sering sekali aku kelaparan apalagi dimalam hari seperti sekarang ini. Karena tidak makan malam.
Pagi tidak sarapan karena belum masak karena punya uang hanya sedikit. Cukup beli beras aja atau cukup untuk beli susu dan donat untuk sarapan anak. Siang gak punya cukup uang untuk beli lauk karena Cuma ada nasi. Malam gak makan karena nunggu suami pulang trus kasih uang buat beli lauk yang enak tapi ternyata hanya cukup untuk jajan anak aja.

Sebelum nikah aku suka ngambek sama mama karena makanannya terlalu sederhana tapi selalu kenyang karena banyak makanan dan camilan tiap hari. Selalu sarapan dengan buras pake sambel kacang dan gorengan atau nasi uduk pake mie bihun. Dulu ku bilang itu sarapan kampungan tapi kalau dibandingkan sekarang aku sudah menikah justru kehidupanku sebelum menikah bisa lebih baik.

Lebih enak punya mama di bandingkan jadi mama. Aku mengerti kenapa mama dulu sangat banting tulang demi menghidupi keempat anaknya yang masih dalam masa pertumbuhan dan masih sekolah semua.

Kini aku mengerti kenapa mama dulu sangat pelit sampai-sampai mama tidak suka jika anaknya jalan-jalan ke mall bersama teman-temannya. Bagi mama ke mall hanya akan membuat banyak keinginan. Hanya membuang-buang uang saja. Jika tidak ada yang penting tidak usah pergi-pergian selain pergi kesekolah. Lebih baik di tabung daripada membeli barang-barang yang sebenarnya sudah dimiiki. Ya! Aku mengerti.
Itu makanya... bapak pernah bilang kalau aku menikah kelak harus dengan laki-laki yang memiliki pekerjaan tetap dengan gaji tetap. Jangan seperti bapak yang pekerjaannya tidak tetap. Jika pekerjaannya di proyek habis ya habis juga penghasilannya. Makannya mama ikut banting tulang demi menyambung hidup apabila tetiba bapak gak ada kerjaan lagi.

Kini aku menikah dengan laki-laki yang pekerjaannya tetap tapi gak punya gaji. Ada yang jual baru dapet untung ya untung itulah penghasilannya. Kalau mau dibilang menyedihkan ya tepat sekali.
Apa aku salah dinikahi orang. Jika saja aku terlalu pintar untuk memilih. Masalahnya adalah tidak ada yang bisa kupilih pada waktu itu. Ada yang suka dengan ku dan ada yang mau menikah denganku saja itu sudah sangat bagus.

Usia 25 belum pernah pacaran sekalipun. Orangtua mana yang tidak cemas. Sangat takut kalau anaknya kelak menjadi perawan tua. Makanya pada saat anaknya dekat dengan seseorang, orangtua selalu bertanya kapan akan diresmikan hubungannya. Lebih baik menikah sekarang daripada tidak sama sekali. Karena nantinya bisa lama lagi untuk mendapatkan jodoh. Begitu kata kakak lelakiku. 

Mereka semua antusias bahwa si jelek ini akan menikah.
Setelah menikah banyak sekali penyesalan kenapa aku tidak bersabar untuk mendapatkan yang terbaik tentunya yang lebih baik dari ini.
Kehidupanku kini tidak seperti yang kubayangkan pada saat aku masih perawan dulu. Aku bercita-cita memiliki keluarga bahagia dengan kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik dari ekonomi orangtuaku. Tapi kenyataannya justru dibawah orangtuaku.

Aku jarang sekali bisa masak makanan enak untuk anak dan suamiku. Menjadi seorang istri yang paling membahagiakan adalah apabila bisa menyuguhkan masakan pada saat suaminya pulang. Tapi tidak begitu denganku. Uang yang diberikan suamiku 20ribu perhari bisa habis untuk beli susu dan jajan anakku. Beli telur sebutir dan sabun cuci untuk membersihkan barang-barang kotor di dapur. Esok harinya buat beli beras, susu dan jajan anak. Esoknya lagi untuk beli minyak goreng dan gula. Begitu seterusnya. Tidak bisa memasak makanan enak.

Aku akan belanja sayur dan lauknya jika aku menerima gaji. Tapi setelahnya suamiku akan berceramah “makanan sederhana aja aku mau makan kok. Gak perlu masak yang banyak kayak begini”. Padahal aku memasak juga untuk anakku tersayang dan diriku sendiri karena aku bosan makan nasi dengan telur ceplok aja dan untuk anakku karena aku kasihan tidak pernah memberikannya sayur.

Beli sayur itu murah. Bayam Cuma 3ribu seikat. Tapi bumbunya yang mahal. Seperti bawang, cabe, bumbu dapur, kaldu ayam supaya rasa sayurnya lebih lezat atau pake jagung biar vitaminnya jadi kaya. Bikin sayur bayam aja bisa sampai 10 ribu kan?? Naah kalau uangku 20rb??? Mana bisa aku beli susu. Bisa beli susu, bisa-bisa anakku gak jajan atau sebaliknya bisa jajan gak bisa beli susu. Karena selain menu sayur bayam kan ada menu lauk juga... semurah-murahnya tempe lah atau tahu yang bisa dibeli dengan seharga 2 ribu yang sekali makan buat kita bertiga. Nanti menu makan selanjutnya apa? Kita kan makan tiga kali sehari bukan sehari sekali. Betul kan??

Ahh andai penghasilan suamiku bisa lebih banyak.misalnya Aku di beri uang dua juta perbulan gitu... untuk uang belanja. Karena selama ini ku hitung apabila aku diberi uang sehari dua puluh ribu, berarti aku hanya mendapatkan 600 ribu perbulan. Padahal hidupku sewaktu sebelum menikah menjadi anak kost, Enam ratus ribu rupiah itu adalah uang makanku selama satu bulan. Belum perlengkapan mandi, kecantikan, transport, dll.

Apakah hidupku setelah menikah jadi lebih menyedihkan ketimbang kehidupan hematku jadi anak kosan?? Kenyataannya memang begitu dan aku rindu masa-masa itu.

Hidup sendiri itu aman. Maksudnya aman dari dosa. Karena tidak ada tekanan untuk patuh terhadap siapapun. Kini... harus mendengarkan perkataan suami, jika tidak nanti dosa. Tidak menyiapkan makan untuk suami katanya dosa. Enggan membuatkan teh juga dosa dan masih banyak dosa-dosa yang lain. Kini sepertinya aku lebih banyak menabung dosa bila dibandingkan nabung uang. #mengeluh tiada akhir.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ke blog aku.
Salam

Meningkatkan Value Untuk Diri Sendiri

Ketika aku menulis, ibarat berjuang dengan diri sendiri. Halo Ladies, kembali lagi Mak Kece menyapa dengan pengetahuan yang bermanfaat. Kali...